Monitoring Keanekaragaman Hayati PT PLN Indonesia Power Unit PLTP Gunung Salak Tahun 2026

Sebagai perusahaan energi yang berorientasi pada kelestarian lingkungan, PT PLN Indonesia Power Unit PLTP Gunung Salak secara konsisten telah mengutamakan kegiatan pembangunan dan operasional yang berwawasan lingkungan. Perwujudan dari komitmen tersebut tertuang dalam Program Peningkatan Perlindungan Keanekaragaman Hayati di Kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak. Perusahaan telah berinisiatif melakukan studi keanekaragaman hayati sejak tahun 2016 dan dilanjutkan dengan pemantauan keanekaragaman hayati pada tahun-tahun berikutnya. Program ini juga merupakan salah satu pemenuhan aspek penilaian dalam Program Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan dalam Pengelolaan Lingkungan Hidup Peraturan Menteri Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 2025.

Berdasarkan letak geografis dan kondisi iklim, area IPJLPB PT PLN Indonesia Power Unit PLTP Gunung Salak termasuk ke dalam ekosistem hutan hujan tropis, sementara berdasarkan ketinggian dari permukaan laut, wilayah ini termasuk ke dalam ekosistem peralihan antara hutan pegunungan bawah (zona sub-montana) dengan hutan perbukitan (Zona Colline) (van Steenis 1971). Seperti halnya hampir seluruh wilayah TNGHS, pada awalnya wilayah ini adalah satu dari beberapa bagian dari hutan hujan pegunungan yang masih tersisa di Pulau Jawa. Hutan pegunungan Jawa memiliki karakteristik selalu hijau (evergreen) yang didominasi oleh pepohonan dari suku pasang-pasangan (Fagaceae), huru-huruan (Lauraceae), dan jambu-jambuan (Myrtaceae) (van Steenis 1971).

Lokasi pemantauan secara umum berada di dalam area IPJLPB PT PLN Indonesia Power Unit PLTP Gunung Salak. Secara administratif, wilayah ini berlokasi di Desa Purwabakti, Kecamatan Pamijahan, Kabupaten Bogor. Area IPJLPB memiliki luas 13,725 hektare yang juga masih termasuk ke dalam kawasan TNGHS, Resort PTNW Gunung Butak, Seksi Pengelolaan Wilayah II Bogor. Pemantauan dilakukan selama empat hari pada tanggal 19–22 Agustus 2026. 

  1. Analisis Vegetasi

Analisis vegetasi pada ekosistem hutan di kawasan konsesi Indonesia Power Gunung Salak tercatat sebanyak 130 jenis tumbuhan dan termasuk ke dalam 60 suku. Suku dengan komposisi jenis terbanyak adalah Lauraceae sebanyak 10  jenis. Selanjutnya suku Moraceae sebanyak 9 jenis, dan Fagaceae yang terdiri 6 jenis. Beberapa suku tumbuhan juga ditemukan dengan jumlah jenis hanya satu jenis.

Perbandingan nilai indeks H’ tahun 2022–2026

2. Analisis Mamalia

Pemantauan mamalia pada monitoring kali ini dilakukan ketika musim kemarau panjang, jumlah jenis mamalia yang ditemukan masih sama dengan survei pada semester 1 tahun 2026 (musim hujan). Meskipun selama periode pemantauan ini masih terjadi hujan, kondisi kemarau yang berlangsung cukup panjang diduga tetap memengaruhi frekuensi serta pola lokasi perjumpaan mamalia. Seperti, terdapat perjumpaan kembali dengan jenis Mydaus javanensis (teledu sigung) di area terbangun semenjak terakhir ditemukan pada semester kedua tahun 2024.  

Grafik perbandingan nilai indeks keanekaragaman mamalia di area IPJLPB setiap tahun 

3. Analisis Herpetofauna

Berdasarkan survei herpetofauna kali ini, tercatat 24 jenis yang telah dijumpai selama pengamatan dengan jumlah total sebanyak 72 individu. Amfibi yang berhasil dijumpai berjumlah 11 spesies yang dikelompokkan dalam 4 suku, sedangkan reptil yang berhasil dijumpai saat pengamatan berjumlah 13 spesies yang dikelompokkan dalam 7 suku. 

Indeks Keanekaragaman, kemerataan dan dominansi 
0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *