Monitoring Keanekaragaman Hayati Tahun 2025
Area Izin Pemanfaatan Jasa Lingkungan Panas Bumi (IPJLPB) seluas 13,725 hektar adalah kawasan yang ditetapkan sebagai area kerja PT PLN Indonesia Power Unit PLTP Gunung Salak. Area yang juga berada
di dalam kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS) ini memiliki ekosistem alami berupa hutan hujan tropis pegunungan bawah yang kaya akan keanekaragaman hayati. Pemantauan keanekaragaman hayati ditujukan sebagai pemenuhan tanggung jawab perusahaan terhadap pengelolaan lingkungan yang lestari dan berkelanjutan untuk mengetahui secara aktual kondisi
keanekaragaman hayati di area kerjanya. Pemantauan keanekaragaman hayati di area IPJLPB mencakup studi tentang kekayaan dan keanekaragaman flora, fauna, dan biota aquatik. Metode yang digunakan mencakup metode pengamatan secara langsung dan tidak langsung, yaitu: petak ukur dan eksplorasi untuk flora; transek jalur, recce walk, dan metode jebak untuk satwa mamalia; poin count dan MacKinnon list untuk burung; visual encounter survey (VES) dan time search untu herpetofauna; transek jalur untuk serangga; dan sampling titik untuk biota akuatik. Total 304 jenis flora dan fauna berhasilterdokumentasi selama pemantauan, termasuk di antaranya 42 jenis yang termasuk sebagai jenis penting, dengan rincian sebagai berikut:

sebaran (endemisitas), status keterancaman (IUCN Redlist), status perdagangan (Appendix CITES), dan
status perlindungan berdasarkan peraturan perundang-undangan (P.106/2018).
Pada monitoring terkini tercatat sebanyak 172 jenis yang termasuk ke dalam 66 famili, di antaranya terdapat jenis penting yang mempunyai nilai konservasi yang tinggi. Sebanyak 14 jenis mempunyai nilai konservasi penting yang tumbuh sebagai vegetasi hutan alami maupun hasil dari budidaya/penanaman. Jenis tumbuhan yang memiliki nilai penting di area IPJBLPB. Kategori dan kriteria IUCN dipahami secara
luas untuk mengklasifikasikan jenis yang berisiko tinggi mengalami kepunahan.



Beberapa mamalia yang ditemukan pada area IPJLPB merupakan jenis penting dan dilindungi oleh International Union for Conservation of Nature (IUCN), dan terdapat jenis yang termasuk dalam perlindungan dalam Permen LHK No. 106 tahun 2018 serta terdapat beberapa jenis mamalia juga dilindungi status perdagangannya secara internasional oleh Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora (CITES). Beberapa jenis penting tersebut
tercantum pada tabel berikut:

Burung di area IPJLPB mempunyai peranan penting terhadap keberlanjutan ekosistem, namun beberapa jenis burung memiliki kerentanan terhadap kepunahan karena kelimpahannya yang rendah maupun endemisitasnya yang tinggi. Keberadaan satwa tersebut sangat penting untuk dilestarikan dengan berbagai upaya untuk mempertahankan keberadaannya. Beberapa jenis burung yang memiliki nilai penting tersebut tersaji dalam tabel di bawah ini. Berdasarkan penilaian melalui beberapa kriteria, didapati sejumlah 11 jenis burung yang termasuk dalam jenis penting. Jenis penting di sini berdasarkan pada konteks status keterancamannya, perlindungannya, endemisitas serta diatur dalam perdagangan satwa secara internasional.



Dua burung pemangsa, (kiri) alap-alap capung dan (kanan) elang jawa. Keberadaan satwa ini di area IPJLPB mengindikasikan area yang sehat karena proses predasi berjalan. Hal ini berarti melimpahnya pakan dari burung
Dari seluruh jenis yang ditemukan, sebagian besar memiliki status konservasi least concern (LC),
namun terdapat satu jenis yang masuk dalam kategori near threatened (NT) berdasarkan IUCN, yakni Feihyla vittiger (katak pucat anggur). Selain itu, beberapa jenis seperti Wijayarana masonii juga memiliki nilai penting sebagai bioindikator kualitas air karena preferensi habitatnya yang sangat spesifik pada lingkungan, seperti hanya dapat hidup jika lingkungan hidupnya memiliki kualitas air yang baik (Kusrini 2003). Tidak ditemukan jenis yang masuk dalam daftar CITES maupun perlindungan nasional (P.106/2018), namun keberadaan jenis endemik seperti Feihyla vittiger dan Wijayarana masonii tetap menambah nilai penting konservasi di area IPJLPB.



Cecak batu dan kongkang jeram menjadi salah dua spesies yang dinilai penting di area IPJLPB. Kongkang jeram, memiliki peran sebagai bioindikator karena keberadaannya mengindikasikan perairan di sekitarnya dalam kualitas baik.




Leave a Reply
Want to join the discussion?Feel free to contribute!