Monitoring Keanekaragaman Hayati PLN Indonesia Power Unit PLTP Gunung Salak Tahun 2024
Sebagai perusahaan energi yang berorientasi pada kelestarian lingkungan, PT PLN Indonesia Power Unit PLTP Gunung Salak secara konsisten telah mengutamakan kegiatan pembangunan dan operasional yang berwawasan lingkungan. Perwujudan dari komitmen tersebut tertuang dalam Program Peningkatan Perlindungan Keanekaragaman Hayati di Kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak. PT PLN Indonesia Power Unit PLTP Gunung Salak telah berinisiatif melakukan studi keanekaragaman hayati sejak tahun 2016 dan dilanjutkan dengan pemantauan keanekaragaman hayati pada tahun-tahun berikutnya.
Pada tahun 2024 Total 252 jenis flora dan fauna berhasil terdokumentasi selama pemantauan, termasuk di antaranya 42 jenis yang termasuk sebagai jenis penting. Tiga ekosistem utama teridentifikasi berdasarkan formasi dan komposisi jenis vegetasi di dalam area IPJLPB, yaitu ekosistem hutan, ekosistem riparian, dan ekosistem area terbangun. Sejumlah 129 jenis tumbuhan dari 56 suku berhasil tercatat di area IPJLPB. Ekosistem hutan ini ditumbuhi oleh pohon-pohon alami khas flora pegunungan Jawa. Jenis-jenis yang dapat dijumpai seperti puspa (Schima wallichii), rasamala
(Liquidambar excelsa), pasang (Lithocarpus spp.), saninten (Castanopsis argentea), serta kelompok ara (Ficus sp.). Pada hutan ini juga ditemukan jenis palahlar/keruing (Dipterocarpus hasseltii) dengan populasi yang sangat sedikit. Jenis palahlar ini merupakan salah satu jenis pohon terancam punah.

Pemantauan Flora
Ekosistem hutan di area IPJLPB PT PLN Indonesia Power Unit PLTP Gunung Salak berada di wilayah timur dan barat. Jumlah plot pengamatan sebanyak 17 plot yang terbagi di hutan bagian timur (5 plot) dan bagian barat (12 plot). Ekosistem ini berbatasan langsung dengan hutan alam di kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak.
Berdasarkan hasil analisis vegetasi di ekosistem hutan, secara keseluruhan berhasil tercatat tumbuhan sebanyak 129 jenis yang termasuk ke dalam 56 suku. Suku dengan komposisi jenis terbanyak adalah Lauraceae sebanyak 9 jenis. Moraceae dalam urutan kedua sebanyak 8 jenis. Rubiaceae sebanyak 7 jenis. Fagaceae dan Arecaceae dengan masing-masing terdiri 6 jenis. Berdasarkan analisis indeks nilai penting (INP), pada tingkat pertumbuhan pohon, jenis yang memiliki nilai INP tertinggi secara berturut-turut adalah kayu afrika (Maesopsis eminii) dengan INP 32,09, puspa (Schima wallichii) dengan INP 29,52 dan hamerang badag (Ficus padana) dengan INP 16,7. Pada tingkat pertumbuhan tiang, jenis dengan nilai INP tertinggi tercatat pada jenis kondang (Ficus fistulosa) sebesar 32,46, ki menir (Eurya acuminata) dengan INP 26,36, dan puspa (Schima wallichii) sebesar 27,11. Pada tingkat pertumbuhan pancang, jenis yang mendominasi adalah paku tiang (Sphaeropteris glauca) dengan INP 22,49; pulus (Dendrochnide stimulans) dengan INP 11,55; dan mara (Macaranga triloba) dengan INP 10,93. Sedangkan untuk tumbuhan bawah didominasi oleh harendong bulu (Miconia crenata) dengan nilai INP sebesar 27,85 dan landep (Barleria cristata) sebesar 20,08. Jenis flora yang memiliki INP tertinggi memberi gambaran jenis tersebut memiliki pengaruh terbesar dalam suatu ekosistem hutan serta mampu mengendalikannya melalui dominansi ukuran dan kelimpahannya.

Pemantauan Mamalia
Jenis yang berhasil tercatat dan teridentifikasi di area IPJLPB PT PLN IP Unit PLTP Gunung Salak berjumlah 16 jenis dari 9 suku yang berbeda.
Jumlah jenis tertinggi diwakili oleh suku Pteropodidae (kelelawar pemakan buah) dengan 5 jenis, diikuti oleh suku Sciuridae (bajing-bajingan) dengan 3 jenis dan suku Cercopithecidae (monyet dunia lama) dengan 2 jenis. Beberapa suku lainnya yang berhasil diidentifikasi ialah suku Viverridae (musang-musangan), Suidae (babi), Tragulidae (pelanduk), Rhinolopidae (kelelawar ladam), Muridae (tikus sejati), dan Tupaidae (tupai-tupaian) yang masing- masing hanya ditemukan satu jenis.
Nilai indeks keanekaragaman, kemerataan dan dominansi menunjukkan kondisi keragaman jenis suatu taksa biota di suatu lokasi. Nilai indeks keanekaragaman menunjukkan nilai 2,6 yang mengindikasikan tingkat keanekaragaman jenis mamalia berada pada tingkat sedang (Magurran 1988). Sementara nilai indeks kemerataan (E) menunjukkan nilai 0,9 yang mengindikasikan bahwa jenis-jenis mamalia di lokasi pengamatan tersebar merata dari aspek sebaran jenis dalam level taksa. Nilai indeks dominansi (D) menunjukkan nilai 0,2 mengindikasikan ada jenis tertentu yang cukup mendominasi, dalam hal ini diwakili oleh lutung jawa (Trachypithecus mauritius).

Pemantauan Burung
Burung yang berhasil dijumpai pada pemantauan musim hujan ini terdiri dari 31 jenis yang berasal dari 20 suku
Nilai indeks keanekaragaman, kemerataan dan dominansi menunjukkan kondisi keragaman jenis suatu taksa biota di suatu lokasi. Indeks keanekaragaman menunjukkan nilai 3,012 yang mengindikasikan tingkat keanekaragaman jenis burung berada pada tingkat tinggi (Magurran 1988). Sementara indeks kemerataan (E) menunjukkan nilai 0,65 yang mengindikasikan bahwa jenis-jenis burung di lokasi tersebar merata dari aspek sebaran jenis dalam level taksa. Indeks dominansi menunjukkan nilai 0,06 yang tergolong dalam kategori rendah. Hal tersebut bisa mengindikasikan bahwa keragaman jenis tinggi, dengan tidak adanya jenis tunggal yang mendominasi.

Burung di kawasan IPJLPB PT PLN IP Unit PLTP Gunung Salak mempunyai peranan penting terhadap keberlanjutan ekosistem, namun beberapa jenis burung memiliki kerentanan terhadap kepunahan karena kelimpahannya yang rendah maupun endemisitasnya yang tinggi. Keberadaan satwa tersebut sangat penting untuk dilestarikan dengan berbagai upaya untuk mempertahankan keberadaannya. Berdasarkan daftar Appendix CITES, dua jenis burung yaitu elang hitam (Ictinaetus malaiensis) dan elang jawa (Nisaetus bartelsi) termasuk dalam kategori Appendix II CITES, yang berarti spesies ini tidak terancam kepunahan, tetapi mungkin terancam punah bila perdagangan terus berlanjut tanpa adanya pengaturan.
Pemantauan Herpetofauna
Jumlah jenis herpetofauna yang ditemukan berjumlah 24 jenis dengan total 130 individu.
Kelas amfibi yang ditemukan berjumlah 13 jenis yang terdiri dari lima suku berbeda dan kelas reptil yang ditemukan berjumlah 11 jenis yang terdiri dari lima suku
Faktor lingkungan sangat berpengaruh terhadap keberadaan herpetofauna khususnya kelompok amfibi, sehingga ketersediaan air menjadi faktor utama pemilihan lokasi pengambilan data. Lokasi yang dipilih dibagi menjadi tiga habitat utama, yaitu habitat sungai beserta vegetasi riparian, habitat hutan, dan habitat area terbangun.
Jenis herpetofauna yang ditemukan dalam pemantauan di wilayan PT PLN Indonesia Power UNit PLTP Gunung Salak tidak ada yang tercatat sebagai jenis yang dilindungi dan termasuk dalam Appendix CITES. Satu jenis herpetofauna memiliki status rentan (vulnerable) berdasarkan daftar merah IUCN, yaitu bunglon hutan Kuhl (Gonocephalus kuhlii). Beberapa jenis yang ditemukan memiliki sebaran geografis yang terbatas atau endemik dan beberapa di antaranya merupakan bio indikator kualitas air.

Pemantauan Serangga
Pengamatan serangga yang dilaksanakan di area IPJLPB PT PLN IP Unit PLTP Gunung Salak didapati 14 jenis Odonata (capung) dan 38 jenis Lepidoptera (kupu-kupu dan ngengat).
Data capung terbanyak didominasi oleh suku Libellulidae dengan jumlah 7 jenis.
Dominasi ini berkaitan dengan penyebaran suku Libellulidae yang cukup luas di Indonesia, jenis capung dalam suku Libellulidae merupakan capung sejati yang mampu terbang dengan daya jelajah yang luas sehingga memungkinkan capung dalam suku ini dapat dijumpai pada berbagai tipe habitat.
Hasil pengamatan capung didapati jenis temuan baru berjumlah 2 jenis capung, terdapat 2 di antaranya capung endemik yang masih ditemukan pada survei sebelumnya. Jenis capung endemik yang masih ditemukan dapat dikatakan bahwa habitat, terutama kawasan perairan di sekitar perusahaan masih terjaga.
Terdapat 3 tipe habitat di area IPJLPB PT PLN IP Unit PLTP Gunung Salak yaitu area terbangun, hutan, dan riparian. Jenis tutupan lahan dengan perjumpaan kupu-kupu dan ngengat tertinggi adalah area terbangun dengan total 22 jenis, diikuti area riparian 18 jenis, dan hutan 5 jenis. Banyaknya kupu-kupu dan ngengat pada area terbangun berkaitan dengan adanya area terbuka yang memudahkan mobilisasi kupu-kupu untuk mencari pakan dan berjemur, sedangkan pada ngengat area terbangun di malam hari menjadi tempat yang akan dikunjungi dikarenakan terdapat cukup cahaya untuk tempat berkumpul. Hutan memiliki temuan paling sedikit dimungkinkan karena kurangnya sinar matahari yang masuk untuk kupu-kupu berjemur.

Nilai indeks keanekaragaman Lepidoptera (kupu-kupu dan ngengat) didapatkan nilai H’ sebesar 3,33. Nilai tersebut menandakan bahwa keanekaragaman Lepidoptera di area tersebut tergolong tinggi. Tingginya nilai indeks keanekaragaman dapat diartikan bahwa suatu kondisi lingkungan masih baik dan dapat mendukung bagi kehidupan Lepidoptera.
Kondisi habitat kupu-kupu di area IPJLPB PT PLN IP Unit PLTP Gunung Salak masih memiliki ketersediaan tumbuhan berbunga yang cukup melimpah sebagai pakan dan inang kupu-kupu dewasa, keberadaan sungai berpasir dan lantai hutan yang basah memungkinkan kupu-kupu melakukan aktivitas berlumpur (mud-puddling).




Leave a Reply
Want to join the discussion?Feel free to contribute!