Monitoring Keanekaragaman Hayati PT Indonesia Power Unit PLTP Gunung Salak Tahun 2023

Wilayah Izin Pemanfaatan Jasa Lingkungan Panas Bumi (IPJLPB) seluas 13,725 Hektar adalah kawasan yang ditetapkan sebagai area kerja PT PLN Indonesia Power unit PLTP Gunung Salak. Wilayah yang juga berada di dalam kawasan Taman Nasional Gunung Salak ini memiliki ekosistem alami berupa hutan hujan tropis pegunungan bawah yang kaya akan keanekaragaman hayati. Pemantauan keanekaragaman hayati ditujukan sebagai pemenuhan tanggung jawab PT Indonesia Power terhadap pengelolaan lingkungan yang lestari dan berkelanjutan untuk mengetahui secara aktual kondisi keanekaragaman hayati di wilayah IPJLPB.
Pemantauan keanekaragaman hayati di wilayah IPJLPB mencakup studi tentang kekayaan dan keanekaragaman flora darat, fauna darat dan biota akuatik. Metode yang dilakukan mencakup metode pengamatan secara langsung dan tidak langsung, yaitu: Petak contoh dan eksplorasi untuk flora darat; Transek jalur, Recce Walk dan metode Jebakan untuk satwa Mamalia; Point Count dan Mackinnon list untuk Avifauna; Visual Encounter Survey (VES) dan Timed Search untuk Herpetofauna; Transek Jalur untuk Serangga; dan Sampling Titik untuk biota akuatik.
Total 233 jenis flora dan fauna berhasil terdokumentasi selama pemantauan, termasuk diantaranya 15 jenis yang tercantum dalam Daftar Merah IUCN di atas kategori Least Concern (LC), 7 jenis perdagangannya diatur oleh CITES, serta 8 jenis tercantum dalam PermenLHK No.106 Tahun 2018.


Jenis yang berhasil tercatat dan teridentifikasi di wilayah IPJLPB PT IP unit Gunung Salak berjumlah 16 jenis dari 9 suku yang berbeda. Jumlah jenis tertinggi diwakili oleh suku Pteropodidae (Kelelawar pemakan buah) dengan empat jenis, diikuti oleh suku Sciuridae (Bajing-bajingan) dan Cercopithecidae (Monyet dunia lama) masing-masing sejumlah tiga jenis. Beberapa suku lainnya yang berhasil dicatat adalah suku Tupaiidae (Tupai- tupaian), Suidae (Babi), Tragulidae (Pelanduk), Viverridae (Musang-musangan), Rhinolophidae (Kelelawar ladam), dan Muridae (Tikus sejati) yang masing-masing hanya ditemukan satu jenis.


Nilai indeks keanekaragaman, kemerataan dan dominansi menunjukkan kondisi keragaman jenis suatu taksa biota di suatu lokasi. Di wilayah IPJLPB PT Indonesia Power Unit PLTP Gunung Salak, nilaiindekskeanekaragaman menunjukkan nilai 3,135 yang mengindikasikan tingkat keanekaragaman jenis burung berada pada tingkat tinggi (Magurran, 1988). Sementara nilai indekskemerataan (E) menunjukkan nilai 0,86 yang mengindikasikan bahwa jenis-jenis burung di lokasi pengamatan tersebar merata dari aspek sebaran jenis dalam level taksa. Nilai indeksdominansi menunjukkan nilai 0,06 menunjukkan tidak terdapat jenis tertentu yang benar-benar mendominasi, namun masih menyisakan ruang untuk kelimpahan tertinggi, dalam hal ini diwakili oleh Cucak Kutilang (Pycnonotusaurigaster).


Ditemukan 24 jenis herpetofauna dari 11 suku di wilayah kerja IPJLPB PT Indonesia Power Unit PLTP Gunung Salak. Famili Ranidae, Gekkonidae, dan Colubridae merupakan famili dengan jumlah terbanyak yaitu 4 jenis diikuti oleh famili Dicroglossidae dengan 3 jenis serta famili Agamidae dan Rhacoporidae dengan 2 jenis. Selain 6 famili tersebut, ditemukan juga famili Megophrydae, Bufonidae, Scincidae, Elapidae, dan Pareidae dengan masing-masing 1 jenis. Hasil perhitungan indeks keanekaragaman menunjukan nilai 2,2 yang berarti bahwa keanekaragaman jenis berada pada tingkat sedang. Sementara dari perhitungan indeks kemerataan diperoleh nilai 0,7 yang berarti bahwa jenis-jenis herpetofauna di wilayah IPJLPB PT Indonesia Power Unit PLTP Gunung Salak tersebar merata dari aspek sebaran jenis. Nilai indeks dominansi sebesar 0,2 yang menunjukkan bahwa jumlah individu dari masing-masing jenis cukup berimbang dan tidak ada jenis yang mendominasi.




Leave a Reply
Want to join the discussion?Feel free to contribute!